Perempuanku

00.54 dini hari, aku baru selesai membaca dan membuat
rangkuman untuk ujian pertengahan bulan. Sementara
secangkir kopi, sebotol air putih, sebotol zabado,
sekotak obat migrain, dan lembaran-lembaran kertas
satu, dua, tiga, hmm….tidak terhitung,  berserakan di
sisi kiriku. 

Aku bangkit dari dudukku dan menyelonjorkan otot-otot
punggungku yang kaku dengan berbaring di karpet.
Sementara temanku sudah sejak tadi lena berpelukan
dengan gulingnya. Buat aku, tidak terlalu penting,
apakah aku harus tidur di karpet atau di kasur yang
sama dengan temanku. 

Sebetulnya, temanku tidak terlalu suka tidur sekasur
denganku bahkan enggan. Begitu pula aku. Menurutku, ia
terlalu segan. Sedangkan
 menurutnya, aku terlalu
sensitive, cepat terbangun! Bah…Bukankah lebih nyaman
menyelonjorkan tubuh dengan posisi seenaknya di atas
karpet, dengan perasaan puas karena aku telah
menyelesaikan sebuah tulisan, lalu mengucapkan
"Selamat tidur, sayang…" kepada angan-angan? 

Angan-angan?
Hm…aku meletakkan kedua lenganku di belakang kepala berangan-angan.

Hm…ketika jiwaku melayang, aku memasuki sebuah café di bilangan 
Makrom di tengah Nasr City pada sepotong senja kelabu yang
diselimuti kegerahan di musim panas. Hanya beberapa
orang duduk di dalam café itu. Sepi. Sayup-sayup What
Am I to You mengalun dari suara Norah Jones. 

Hm…aku melihat seseorang perempuan duduk di meja
paling sudut di dekat jendela kaca. Ia memandang
kendaraaan lalu lalang seakan-akan menghitung satu
persatu setiap yang berlalu dengan tatapan kosong.
Wajahnya cantik tetapi muram. Tubuhnya mungil tetapi
bahasa tubuhnya
 aneh. Ia melipat kedua tangan di atas
paha, matanya menatap kosong keluar jendela, lalu
seperti gelisah ia memilin-milin tali penyangga
tasnya. 

Hm…aku berjalan menuju perempuan itu.
"Kenapa kau masih di sini?" tanyaku pada perempuan
itu.
Ia menoleh. Tersenyum. Tetapi tetap muram.
"Menunggumu. Akhirnya kamu datang juga," jawabnya
gamang.
"Sudah lama?"tanyaku
"Lama sekali. Bahkan hampir putus asa menunggumu."
Guraunya sambil menjulurkan lidah.
"Lalu kenapa terus menunggu?" aku balas menggodanya.
"Karena aku yakin kamu pasti datang. Karena aku sudah
berjanji tidak akan mengecewakanmu. Karena aku sudah
berjanji akan selalu menemanimu."jawabnya lugas
"Ah…," aku menghela napas dan kemudian duduk di
depannya.
"Kenapa kau lakukan itu? Bukankah yang kau tahu aku
sudah dimiliki seorang perempuan," kataku sambil
memandangnya lekat-lekat. 

Ia mengangkat bahu. "Kalau aku jawab karena
 aku cinta
padamu…, mungkin akan sangat terdengar klise. Kamu
sudah pasti menulis terlalu banyak untuk sebuah kata
cinta. Kalau aku jawab karena aku percaya padamu,
mungkin akan sangat terdengar tolol. Kenapa bisa
percaya kepada laki-laki yang katakan saja telah
memiliki dan dimiliki perempuan lain. Lalu menurutmu,
aku harus menjawab apa?" ia balik bertanya. 

"Jawab saja sesuai kata hatimu. Bukankah kata hati
adalah suara yang paling jujur?" jawabku sambil terus
menjelajahi raut mukanya
"Hm…," ia bergumam agak panjang sambil menghirup
Banana Milk di depannya. "Karena ngeri sekali rasanya
membayangkan bila harus melukaimu," jawabnya lugu
tetapi menyentuh perasaanku. 

"Kenapa?"
"Karena kamu memberikan rasa nyaman," sahutnya cepat.
"Apakah kamu merasa nyaman menemani aku yang sangat
membosankan?"tanyaku heran.
"Tidak." jawabnya
"Lalu?" kembali aku bertanya
Ia menikam manik mataku dengan
 tatapannya yang murung.
"Tahukah kamu, kalau kangen itu adalah luka yang
paling nikmat?"tanyanya sambil tersenyum dan aku tahu 
pertanyaan itu tulus dari lubuk hatinya.
"Ah, sejak kapan kamu jadi puitis?"aku mengernyitkan
dahi pura-pura heran.
"Sejak bersamamu." jawabnya sambil terkekeh
"Dasar"Aku tertawa kecil. Bersama perempuan ini memang
mengasyikkan.
Jeda sejenak ketika aku memesan White mocca
kesukaanku.
"White mocca with cream, Hot, Tidak kepanasan? Di luar
sangat panas lho. Apakah tidak lebih baik memesan pepsi
atau jus?" sergah perempuan itu.
"Kamu selalu membuatku merasa sejuk," bisikku 
sambil mendekatkan mulutku ke telinganya. 

Olala, benarkah kata-kata pujangga bahwa dunia bisa
terbalik kalau sedang jatuh cinta? Panas jadi dingin
dan dingin jadi panas, malam jadi siang dan siang jadi
malam? Ah, itu kalau jatuh cinta pada saat dan orang
yang tepat! Sergahku dalam hati. Bagaimana kalau jatuh
cinta pada saat dan orang yang salah? Alamak, mungkin
siang malam akan menjadi panas dingin.
Telepon selularnya yang terbungkus telapak tangannya
mendadak mengeluarkan bunyi ’mengeong’. 

"Siapa?Lelaki pujaanmu?" aku bertanya tanpa mampu
menahan tawa walau gerah hati. Jarang sekali aku
mendengar ring tone mengeong seekor kucing. 

Ia bergerak menekan tombol view lalu memperlihatkan
message di layar kepadaku: "Please call me, thank you"
"Seekor kucing yang kesepian…," sahutnya dengan nada
sumbang.
"Apa kamu bilang… kucing?" tanyaku heran
"Seorang laki-laki yang kesepian," ia mengulangi
kata-katanya.
"Tadi kamu bilang seekor kucing yang kesepian." 

"Laki-laki sama seperti seekor kucing. Licik,"
sahutnya enteng. "Seekor kucing yang mengeong-ngeong
minta dipangku dan dielus-elus tengkuknya. Lalu ia
merem melek tidur di pangkuan. Tetapi ketika tetangga
sebelah menawarkan seekor pindang, dengan mudahnya ia
mengeong, mengendus, dan menjilat kepada tetangga
sebelah," sahutnya sejurus setelah
 menghirup banana
milk lagi. 

Aku tertawa tanpa bisa kucegah. "Masa sampai seperti
itu?"
Ia mengangguk-angguk. Lidahnya yang merah terlihat
seksi ketika ia menjilati bibirnya yang indah. "Ya,
semua kucing seperti itu. Entah itu kucing Persia,
kucing Siam, kucing angora, atau bahkan hanya kucing
kampung. Kucing mudah tergoda dengan pindang, empal,
hati, atau apa saja. Bahkan kalau tidak ada yang
menawari, maka sang kucing akan mencari-cari
kesempatan untuk mencuri di atas meja makan, di lemari
dapur, atau bahkan mengais-ngais tempat sampah!"
ujarnya pelan tetapi terasa ketus. 

Aku ikut mengangguk-angguk. Sambil bertanya dalam hati
apakah aku juga seperti kucing, padahal aku sangat
sulit untuk jatuh cinta. Ketika white mocca-ku datang,
kuhirup dulu. Rasa manis dan lezat terasa menyegarkan
lidah dan tenggorokanku. Walaupun ujung hidungku juga
membias hangat seperti uap yang menyembur dari
 mulut
gelas.

"Hm…itu laki-laki ya. Laki-laki seperti kucing.
Bagaimana kalau perempuan?" tanyaku sejurus kemudian.
"Perempuan seperti anjing…"
"Anjing?!" aku terpana. 

"Ya, setia seperti anjing. Apa pun anjing itu. Anjing
herder, anjing peking, anjing cow-cow, atau anjing
kampung sekalipun, ia akan tetap duduk setia menunggu
pintu sampai tuannya pulang ke rumah. Anjing hanya
memakan yang disodorkan tuannya. Bahkan terkadang,
tuannya sudah bosan dan mengusirnya sambil melemparnya
dengan sepatu, sang anjing masih kembali menjaga pintu
rumah tuannya," ia bicara panjang sambil tertawa. 

"Ada sebuah cerita yang kudengar ketika aku masih
kanak-kanak. Seekor anjing setiap pagi mengantarkan
tuannya ke stasiun kereta dan setiap sore menjemput
tuannya di stasiun kereta. Suatu hari, tuannya
meninggal di jalan dan tidak pulang kembali. Sang
anjing tetap menunggu tuannya di stasiun kereta
 itu
sampai mati pula di dalam penantiannya di stasiun
itu." 

"Hei, menurutmu itu setia atau tolol, sayang?" ia
terkikik.
"Hm, menurutku ironis!" sahutku.
Kali ini tawanya meledak. Ia tertawa sampai bahunya
yang indah terguncang-guncang. Tawa panjangnya
memenuhi ruangan café, sampai ke jalan-jalan, memantul
di selokan-selokan, menembus tirai gerimis,
mengalahkan suara merdu Norah Jones, mengaung di
sepanjang lorong hatiku.
"Ya memang harus seperti itu. Ironis. Anjing dan
kucing. Perempuan dan laki-laki. Kau dan aku."
"Kita?"
"Ya. Kita. Kau dan aku."
"Kau dan aku?" aku masih tidak mengerti.
"Ya. Kau adalah aku. Aku adalah kau."
"Hah?" 

"Ya. Kau dan aku itu adalah satu kesadaran yang sama.
Aku di dalam kau, dan kau di dalam aku. Kita adalah
laki-laki. Dan kita adalah perempuan. Kita sekarang
ada di café. Kau selalu membawaku pergi di dalam
angan-anganmu. Aku juga selalu
 mengikuti kau pergi di
dalam bayang-bayangmu." 

"Mana mungkin?!" desisku terperanjat. "Kau adalah kau.
Aku adalah aku. Ini cuma halusinasi. Ini cuma
imajinasi. Ini cuma ilusi."
"Tidak. Kita adalah sama. Ini adalah
deja-vu."jawabnya.
"Deja-vu?!" seruku tidak percaya.
"Kau siapa?" aku masih bertanya.
"Maya," sahutnya. "Aku Maya. Masa lalu, khayal, mimpi,
semu, ada dan tiada."
"Aku siapa?" tanyaku lagi.
"Asa," sahutnya. "Kau Asa. Masa depan, harapan, dan
cita-cita."
"Begitukah?" aku bergumam. "Kau Maya, masa laluku. Aku
Asa, masa depanmu.
"Ya," suaranya seakan-akan datang dari labirin ruang
jarak dan waktu di belahan dunia lain. 

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pulang bersama?"
ajakku
"Bagaimana dengan perempuanmu?" perempuan itu bertanya
dengan sorot mata yang menembus ruang hatiku yang
terdalam.
"Apakah kau tahu aku mencintainya atau tidak? Bahkan
bisa dibilang aku
 belum mengenalnya . Sedangkan kau,
selalu berada di dalam diriku. Aku sangat
menyayangimu" timpalku
Dia tertawa manis. "Dasar kucing." Dia mencibir
"Meonggg…," sahutku. 

Lagi-lagi ia tertawa. "Hai, alangkah baiknya kalau
perempuan tidak lagi menyumpahi laki-laki dengan
kata-kata ’anjing kau!’. Bukankah semestinya perempuan
menyumpahi laki-laki dengan kata-kata ’kucing kau!’.
Bagaimana menurutmu?"
"Meonggg…," sahutku lagi mengeong seperti seekor
kucing yang sedang kasmaran.
"Kamu genit, mau menikah denganku?" tanyanya meledek
"Meonggg…kapanpun!!!" jawabku serius

Aku menariknya ke dalam pelukanku di dalam
angan-angan.
Dan aku orgasme ketika menyelesaikannya di dalam
sebuah tulisan.
Akhirnya aku beranjak menuju kamar mandi untuk
melakukan ritual anak kecil; mencuci tangan, kaki,
muka dan menggosok gigi. 

Bah!
Ketika selesai kubasuh wajahku, aku tengadah
 melihat
pantulan diriku di cermin di atas toilet.
Astaga!
Wajahku separuh anjing , separuh kucing.
Alamak!
Aku separuh menggonggong , separuh mengeong.
*** 

Kairo, 2006
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: