Broker/Pemakelaran ( Samsaroh ) dalam Islam

oleh : Abdullah Abdulkarim Lc.

Berikut ini adalah beberapa kesimpulan penting dari hukum pemakelaran berdasarkan keterangan ulama fikih mengenai permasalahan ini.

Pertama, definisi dan rukun samsarah.

Samsaroh adalah kosakata bahasa Persia yang telah diadopsi menjadi bahasa Arab yang berarti sebuah profesi dalam menengahi dua kepentingan atau pihak yang berbeda dengan kompensasi, baik berupa upah (ujroh) atau bonus, komisi(ji’âlah) dalam menyelesaikan suatu transaksi. Adapun Simsar adalah sebutan untuk orang yang bekerja untuk orang lain sebagai penengah dengan kompensasi (upah atau bonus), baik untuk menjual maupun membeli.

Ulama penganut Hambali, Muhammad bin Abi al-Fath, dalam kitabnya, al-Mutalli’, telah meyatakan definisi tentang pemakelaran, yang dalam fiqih dikenal dengan samsarah, atau dalal sebagai sinonimnya, seraya menyatakan:

Jika (seseorang) menunjukkan dalam transaksi jual-beli; dikatakan: dalalta – dengan masdar yang difathahkan dal-nya, dalâlat(an), dikasrahkan dal-nya, dilâlat(an), atau didhammahkan dalnya, dulâlat(an) – jika anda menunjukkan seorang pembeli kepada penjual, maka orang tersebut adalah simsar atau dallâl (makelar) antara keduanya (pembeli dan penjual).

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa rukun samsaroh terdiri dari al- muta’âqidâni ( makelar dan pemilik harta ), mahall al-ta’âqud ( jenis transaksi yang dilakukan dan kompensasi) dan al-shîgat (lafadz atau sesuatu yang menunjukan keridhoan atas transaksi pemakelaran tersebut).

Kedua, hukum syara’ seputar samsaroh

Secara umum, hukum samsaroh adalah boleh berdasarkan hadits Qays bin Abi Ghurzah al-Kinani, yang menyatakan:

“Kami biasa membeli beberapa wasaq di Madinah, dan biasa menyebut diri kami dengan samasirah (bentuk plural dari simsâr, makelar), kemudian Rasulullah SAW. Keluar menghampiri kami, dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik daripada sebutan kami. Beliau menyatakan: Wahai para tujjâr (bentuk plural dari tâjir, pedagang), sesungguhnya jual-beli ini selalu dihinggapi sesumpah dan kelalaian (kebohongan), maka bersihkan dengan sedekah.”

Hanya, yang perlu dipahami adalah fakta pemakelaran yang dinyatakan dalam hadits Rasulullah SAW tidak mencakup Multi Level Marketing MLM) dengan system makelar di atas makelar atau samsarah ‘ala samsarah , sebagaimana yang dijelaskan oleh As-Sarkhasi ketika mengemukakan hadits ini :

Dari batasan-batasan tentang pemakelaran di atas, bisa disimpulkan, bahwa pemakelaran itu dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, yang berstatus sebagai pemilik (mâlik). Bukan dilakukan oleh seseorang terhadap sesama makelar yang lain. Karena itu, memakelari makelar atau samsarah ‘ala samsarah tidak diperbolehkan. Sebab, kedudukan makelar adalah sebagai orang tengah (wasîth). Atau orang yang mempertemukan (muslih) dua kepentingan yang berbeda; kepentingan penjual dan pembeli. Jika dia menjadi penengah orang tengah (wasîth al wasîth), maka statusnya tidak lagi sebagai penengah. Dan gugurlah kedudukannya sebagai penengah, atau makelar.

Ketiga, syarat-syarat yang berhubungan dengan pemakelaran.

Secara praktis, pemakelaran terealisasi dalam bentuk  transaksi dengan kompensasi upah ‘aqdu ijâroh atau atau dengan komisi ‘aqdu ji’âlah. Maka syarat-syarat dalam pemakelaran mengacu pada syarat-syarat umum ‘aqad atau transaksi menurut aturan fikih islam,

Syarat-syarat umum tersebut transaksi dapat diterapkan pada al-’âqidâni (penjual dan pembeli) dan al-shîgat. Sedangkan seorang makelar hanya dibebankan syarat al-tamyîz tanpa al-aqlu wal bulugh seperti yang disyaratkan pada al-‘âqidâni, sebab seorang makelar hanya sebagai penengah dan tidak bertanggungjawab atas transaksi.

Adapun syarat-syarat mengenai mahall al-ta’âqud (objek transaksi dan kompensasi), para ulama mensyaratkan objek transaksi yang legal (masyrû’) dan kompensasi yang telah ditentukan (ma’lûm).

Keempat, praktik pemakelaran dengan cara ‘aqdu ijâroh

Seorang makelar berhak mendapatkan kompensasi berupa upah jika telah menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan padanya dan ‘aqd ijâroh yang telah disepakati sah menurut hokum. Dan kompensasi seorang makelar merupakan beban pihak pertama atau pemilik, kecuali jika ada klausul tertentu atau adat yang bertentangan dengan hal tersebut.

Jika terjadi cacat pada akad yang berakibat pada batalnya akad tersebut, apabila makelar mengetahuinya maka dia tidak berhak mendapatkan kompensasi, tapi apabila dia tidak mengetahuinya maka dia berhak mendapatkan kompensasi sesuai dengan ketentuan. Dan jika makelar menjual dengan harga melebihi harga yang ditentukan maka uang lebih menjadi hak pemilik harta atau pihak pertama dan si makelar tidak mendapatkan apa-apa kecuali upah yang telah ditentukan. Sedangkan pada jual beli murôbahah, hitungan upah yang diterima makelar mengacu dan disesuaikan dengan adat yang berlaku.

Barang hilang atau rusak tidak menjadi tanggungjawab makelar jika ia merupakan makelar tunggal ajîr khâs dan menjadi tanggungjawab jika ia merupakan makelar kolektif ajîr musytarik.

Demikian beberapa kesimpulan mengenai pemakelaran berdasarkan pada aturan fikih islam.

Advertisements

Hukum Ringkas Zakat Fitrah

Oleh : Abdullah Abdulkarim Lc,

Di sini saya akan mencoba memaparkan apa itu Zakat Fitrah dan hukumnya. Selain itu akan dijelaskan mengenai siapa yang dikenakan kewajiban zakat fitrah, besarannya, waktu pembayarannya, dan kepada siapa zakat fitrah dibagikan.

Ta’rif dan Hukumnya •

Zakat atau sedekah fitrah adalah zakat yang disebabkan datangnya Idul Fitri setelah Ramadhan. Diwajibkan pada tahun kedua hijriyah –bersamaan dengan kewajiban puasa– dan berbeda dengan zakat-zakat yang lainnya karena zakat ini wajib atas setiap orang, bukan atas kekayaan. • Jumhurul ulama bersepakat bahwa zakat fitrah itu hukumnya wajib, seperti dalam hadits Ibnu Umar bahwa, “Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah dari bulan Ramadhan satu sha’ kurma dan gandum atas setiap orang merdeka atau budak sahaya, laki-laki dan wanita umat Islam ini.” (Al-Jama’ah). Demikianlah pendapat empat madzhab. • Rasulullah saw. telah menjelaskan hikmah zakat fitrah, yaitu sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia yang sangat sulit dihindari saat sedang berpuasa. Zakat fitrah juga menjadi makanan fakir miskin pada Hari Raya sehingga mereka semua dapat merayakan Idul Fitri dengan senang dan bahagia.

Siapa yang diwajibkan? •

Zakat ini diwajibkan kepada setiap muslim, baik merdeka atau budak, laki-laki atau wanita, besar atau kecil, kaya atau miskin. Seorang laki-laki mengeluarkan zakat untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Seorang isteri mengeluarkan zakat untuk dirinya atau oleh suaminya. Tidak wajib dibayarkan untuk bayi yang masih dalam kandungan, meskipun disunnahkan menurut Ahmad bin Hanbal. • Jumhurul ulama mensyaratkan zakat itu kepada seorang muslim yang memiliki kelebihan makanan pada Hari Ied itu sebesar zakat fitrah yang menjadi kewajibannya. Hutang yang belum jatuh tempo tidak boleh menggeser kewajiban zakat, berbeda dengan hutang yang sudah jatuh tempo (yang harus dibayar seketika itu).

Besar Zakat Fitrah •

Tiga ulama (Malik, Syafi’i, dan Ahmad) telah bersepakat bersama jumhurul ulama bahwa zakat fitrah itu sebesar satu sha’ kurma, gandum, atau makanan lain yang menjadi makanan pokok negeri yang bersangkutan. Seperti yang ada dalam hadits di atas juga hadits Abu Said Al-Khudri, “Kami pernah membayar zakat fitrah dan Rasulullah saw. bersama kami, berupa satu sha’ makanan, atau kurma, atau gandum. Seperti itu kami membayar zakat, sampai di zaman Muawiyah datang di Madinah yang mengatakan, ‘Sekarang saya berpendapat bahwa dua mud gandum Syam itu sama dengan satu sha’ kurma.’ Lalu pendapat ini dipakai kaum muslimin saat itu.” (Al-Jama’ah). Madzhab Hanafi berpendapat bahwa zakat fitrah itu sebesar satu sha’ dari semua jenis makanan. • Satu sha’ adalah empat sendokan dengan dua telapak tangan orang dewasa standar atau empat mud. Karena satu mud itu juga sebesar sendokan dengan dua telapak tangan orang dewasa standar, jika dikonversi sekitar 2.176 gr. • Zakat fitrah dikeluarkan dari makanan pokok mayoritas penduduk di suatu negeri, atau dari mayoritas makanan pokok muzakki jika lebih baik dari pada makanan pokok negeri mustahik. Demikianlah pendapat jumhurul ulama. • Diperbolehkan membayar dengan nilai uang satu sha’ jika lebih bermanfaat bagi fakir miskin. Demikianlah pendapat madzhab Hanafi, yang diriwayatkan pula dari Umar bin Abdul Aziz dan Hasan Al Bashri, pendapat yang lebih mudah dikerjakan pada masa sekarang ini.

Waktu Membayarkannya •

Zakat fitrah wajib dibayar oleh orang yang bertemu dengan terbenamnya matahari di hari terakhir bulan Ramadhan. Ini menurut madzhab Syafi’i. Atau yang bertemu dengan terbit fajar Hari Ied, menurut madzhab Hanafi dan Maliki. • Wajib mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat Ied, seperti dalam hadits Ibnu Abbas. Diperbolehkan membayarnya lebih awal sejak masuk bulan Ramadhan, menurut madzhab Syafi’i. Dan yang utama mengakhirkannya satu atau dua hari menjelang Iedul Fitri. Demikianlah pendapat yang dipegang oleh madzhab Maliki. Diperbolehkan mendahulukannya sampai awal tahun menurut madzhab Hanafi, beralasan bahwa namanya tetap zakat. Dan menurut madzhab Hanbali diperbolehkan mensegerakannya mulai dari separuh kedua bulan Ramadhan.

Kepada Siapa Zakat Ini Dibagikan? •

Para ulama bersepakat bahwa zakat fitrah ini dibagikan kepada fakir miskin kaum muslimin. Abu Hanifah memperbolehkan pembagianya kepada fakir miskin ahli dzimmah (orang kafir yang hidup di dalam perlindungan pemerintahan Islam). • Prinsipnya bahwa zakat fitrah itu diwajibkan untuk dibagkan kepada fakir miskin, sehingga tidak diberikan kepada delapan ashnaf lainnya. Kecuali jika ada kemaslahatan atau kebutuhan lain. Zakat ini juga hanya dibagikan di negeri zakat itu diambil, kecuali jika di negeri itu tidak ada fakir miskin, diperbolehkan untuk memindahkannya ke negara lain. • Zakat fitrah tidak boleh dibagikan kepada orang yang tidak boleh menerima zakat mal seperti orang murtad, fasik yang mengganggu kaum muslimin, anak, orang tua, atau isteri.