Perempuanku

00.54 dini hari, aku baru selesai membaca dan membuat
rangkuman untuk ujian pertengahan bulan. Sementara
secangkir kopi, sebotol air putih, sebotol zabado,
sekotak obat migrain, dan lembaran-lembaran kertas
satu, dua, tiga, hmm….tidak terhitung,  berserakan di
sisi kiriku. 

Aku bangkit dari dudukku dan menyelonjorkan otot-otot
punggungku yang kaku dengan berbaring di karpet.
Sementara temanku sudah sejak tadi lena berpelukan
dengan gulingnya. Buat aku, tidak terlalu penting,
apakah aku harus tidur di karpet atau di kasur yang
sama dengan temanku. 

Sebetulnya, temanku tidak terlalu suka tidur sekasur
denganku bahkan enggan. Begitu pula aku. Menurutku, ia
terlalu segan. Sedangkan
 menurutnya, aku terlalu
sensitive, cepat terbangun! Bah…Bukankah lebih nyaman
menyelonjorkan tubuh dengan posisi seenaknya di atas
karpet, dengan perasaan puas karena aku telah
menyelesaikan sebuah tulisan, lalu mengucapkan
"Selamat tidur, sayang…" kepada angan-angan? 

Angan-angan?
Hm…aku meletakkan kedua lenganku di belakang kepala berangan-angan.

Hm…ketika jiwaku melayang, aku memasuki sebuah café di bilangan 
Makrom di tengah Nasr City pada sepotong senja kelabu yang
diselimuti kegerahan di musim panas. Hanya beberapa
orang duduk di dalam café itu. Sepi. Sayup-sayup What
Am I to You mengalun dari suara Norah Jones. 

Hm…aku melihat seseorang perempuan duduk di meja
paling sudut di dekat jendela kaca. Ia memandang
kendaraaan lalu lalang seakan-akan menghitung satu
persatu setiap yang berlalu dengan tatapan kosong.
Wajahnya cantik tetapi muram. Tubuhnya mungil tetapi
bahasa tubuhnya
 aneh. Ia melipat kedua tangan di atas
paha, matanya menatap kosong keluar jendela, lalu
seperti gelisah ia memilin-milin tali penyangga
tasnya. 

Hm…aku berjalan menuju perempuan itu.
"Kenapa kau masih di sini?" tanyaku pada perempuan
itu.
Ia menoleh. Tersenyum. Tetapi tetap muram.
"Menunggumu. Akhirnya kamu datang juga," jawabnya
gamang.
"Sudah lama?"tanyaku
"Lama sekali. Bahkan hampir putus asa menunggumu."
Guraunya sambil menjulurkan lidah.
"Lalu kenapa terus menunggu?" aku balas menggodanya.
"Karena aku yakin kamu pasti datang. Karena aku sudah
berjanji tidak akan mengecewakanmu. Karena aku sudah
berjanji akan selalu menemanimu."jawabnya lugas
"Ah…," aku menghela napas dan kemudian duduk di
depannya.
"Kenapa kau lakukan itu? Bukankah yang kau tahu aku
sudah dimiliki seorang perempuan," kataku sambil
memandangnya lekat-lekat. 

Ia mengangkat bahu. "Kalau aku jawab karena
 aku cinta
padamu…, mungkin akan sangat terdengar klise. Kamu
sudah pasti menulis terlalu banyak untuk sebuah kata
cinta. Kalau aku jawab karena aku percaya padamu,
mungkin akan sangat terdengar tolol. Kenapa bisa
percaya kepada laki-laki yang katakan saja telah
memiliki dan dimiliki perempuan lain. Lalu menurutmu,
aku harus menjawab apa?" ia balik bertanya. 

"Jawab saja sesuai kata hatimu. Bukankah kata hati
adalah suara yang paling jujur?" jawabku sambil terus
menjelajahi raut mukanya
"Hm…," ia bergumam agak panjang sambil menghirup
Banana Milk di depannya. "Karena ngeri sekali rasanya
membayangkan bila harus melukaimu," jawabnya lugu
tetapi menyentuh perasaanku. 

"Kenapa?"
"Karena kamu memberikan rasa nyaman," sahutnya cepat.
"Apakah kamu merasa nyaman menemani aku yang sangat
membosankan?"tanyaku heran.
"Tidak." jawabnya
"Lalu?" kembali aku bertanya
Ia menikam manik mataku dengan
 tatapannya yang murung.
"Tahukah kamu, kalau kangen itu adalah luka yang
paling nikmat?"tanyanya sambil tersenyum dan aku tahu 
pertanyaan itu tulus dari lubuk hatinya.
"Ah, sejak kapan kamu jadi puitis?"aku mengernyitkan
dahi pura-pura heran.
"Sejak bersamamu." jawabnya sambil terkekeh
"Dasar"Aku tertawa kecil. Bersama perempuan ini memang
mengasyikkan.
Jeda sejenak ketika aku memesan White mocca
kesukaanku.
"White mocca with cream, Hot, Tidak kepanasan? Di luar
sangat panas lho. Apakah tidak lebih baik memesan pepsi
atau jus?" sergah perempuan itu.
"Kamu selalu membuatku merasa sejuk," bisikku 
sambil mendekatkan mulutku ke telinganya. 

Olala, benarkah kata-kata pujangga bahwa dunia bisa
terbalik kalau sedang jatuh cinta? Panas jadi dingin
dan dingin jadi panas, malam jadi siang dan siang jadi
malam? Ah, itu kalau jatuh cinta pada saat dan orang
yang tepat! Sergahku dalam hati. Bagaimana kalau jatuh
cinta pada saat dan orang yang salah? Alamak, mungkin
siang malam akan menjadi panas dingin.
Telepon selularnya yang terbungkus telapak tangannya
mendadak mengeluarkan bunyi ’mengeong’. 

"Siapa?Lelaki pujaanmu?" aku bertanya tanpa mampu
menahan tawa walau gerah hati. Jarang sekali aku
mendengar ring tone mengeong seekor kucing. 

Ia bergerak menekan tombol view lalu memperlihatkan
message di layar kepadaku: "Please call me, thank you"
"Seekor kucing yang kesepian…," sahutnya dengan nada
sumbang.
"Apa kamu bilang… kucing?" tanyaku heran
"Seorang laki-laki yang kesepian," ia mengulangi
kata-katanya.
"Tadi kamu bilang seekor kucing yang kesepian." 

"Laki-laki sama seperti seekor kucing. Licik,"
sahutnya enteng. "Seekor kucing yang mengeong-ngeong
minta dipangku dan dielus-elus tengkuknya. Lalu ia
merem melek tidur di pangkuan. Tetapi ketika tetangga
sebelah menawarkan seekor pindang, dengan mudahnya ia
mengeong, mengendus, dan menjilat kepada tetangga
sebelah," sahutnya sejurus setelah
 menghirup banana
milk lagi. 

Aku tertawa tanpa bisa kucegah. "Masa sampai seperti
itu?"
Ia mengangguk-angguk. Lidahnya yang merah terlihat
seksi ketika ia menjilati bibirnya yang indah. "Ya,
semua kucing seperti itu. Entah itu kucing Persia,
kucing Siam, kucing angora, atau bahkan hanya kucing
kampung. Kucing mudah tergoda dengan pindang, empal,
hati, atau apa saja. Bahkan kalau tidak ada yang
menawari, maka sang kucing akan mencari-cari
kesempatan untuk mencuri di atas meja makan, di lemari
dapur, atau bahkan mengais-ngais tempat sampah!"
ujarnya pelan tetapi terasa ketus. 

Aku ikut mengangguk-angguk. Sambil bertanya dalam hati
apakah aku juga seperti kucing, padahal aku sangat
sulit untuk jatuh cinta. Ketika white mocca-ku datang,
kuhirup dulu. Rasa manis dan lezat terasa menyegarkan
lidah dan tenggorokanku. Walaupun ujung hidungku juga
membias hangat seperti uap yang menyembur dari
 mulut
gelas.

"Hm…itu laki-laki ya. Laki-laki seperti kucing.
Bagaimana kalau perempuan?" tanyaku sejurus kemudian.
"Perempuan seperti anjing…"
"Anjing?!" aku terpana. 

"Ya, setia seperti anjing. Apa pun anjing itu. Anjing
herder, anjing peking, anjing cow-cow, atau anjing
kampung sekalipun, ia akan tetap duduk setia menunggu
pintu sampai tuannya pulang ke rumah. Anjing hanya
memakan yang disodorkan tuannya. Bahkan terkadang,
tuannya sudah bosan dan mengusirnya sambil melemparnya
dengan sepatu, sang anjing masih kembali menjaga pintu
rumah tuannya," ia bicara panjang sambil tertawa. 

"Ada sebuah cerita yang kudengar ketika aku masih
kanak-kanak. Seekor anjing setiap pagi mengantarkan
tuannya ke stasiun kereta dan setiap sore menjemput
tuannya di stasiun kereta. Suatu hari, tuannya
meninggal di jalan dan tidak pulang kembali. Sang
anjing tetap menunggu tuannya di stasiun kereta
 itu
sampai mati pula di dalam penantiannya di stasiun
itu." 

"Hei, menurutmu itu setia atau tolol, sayang?" ia
terkikik.
"Hm, menurutku ironis!" sahutku.
Kali ini tawanya meledak. Ia tertawa sampai bahunya
yang indah terguncang-guncang. Tawa panjangnya
memenuhi ruangan café, sampai ke jalan-jalan, memantul
di selokan-selokan, menembus tirai gerimis,
mengalahkan suara merdu Norah Jones, mengaung di
sepanjang lorong hatiku.
"Ya memang harus seperti itu. Ironis. Anjing dan
kucing. Perempuan dan laki-laki. Kau dan aku."
"Kita?"
"Ya. Kita. Kau dan aku."
"Kau dan aku?" aku masih tidak mengerti.
"Ya. Kau adalah aku. Aku adalah kau."
"Hah?" 

"Ya. Kau dan aku itu adalah satu kesadaran yang sama.
Aku di dalam kau, dan kau di dalam aku. Kita adalah
laki-laki. Dan kita adalah perempuan. Kita sekarang
ada di café. Kau selalu membawaku pergi di dalam
angan-anganmu. Aku juga selalu
 mengikuti kau pergi di
dalam bayang-bayangmu." 

"Mana mungkin?!" desisku terperanjat. "Kau adalah kau.
Aku adalah aku. Ini cuma halusinasi. Ini cuma
imajinasi. Ini cuma ilusi."
"Tidak. Kita adalah sama. Ini adalah
deja-vu."jawabnya.
"Deja-vu?!" seruku tidak percaya.
"Kau siapa?" aku masih bertanya.
"Maya," sahutnya. "Aku Maya. Masa lalu, khayal, mimpi,
semu, ada dan tiada."
"Aku siapa?" tanyaku lagi.
"Asa," sahutnya. "Kau Asa. Masa depan, harapan, dan
cita-cita."
"Begitukah?" aku bergumam. "Kau Maya, masa laluku. Aku
Asa, masa depanmu.
"Ya," suaranya seakan-akan datang dari labirin ruang
jarak dan waktu di belahan dunia lain. 

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pulang bersama?"
ajakku
"Bagaimana dengan perempuanmu?" perempuan itu bertanya
dengan sorot mata yang menembus ruang hatiku yang
terdalam.
"Apakah kau tahu aku mencintainya atau tidak? Bahkan
bisa dibilang aku
 belum mengenalnya . Sedangkan kau,
selalu berada di dalam diriku. Aku sangat
menyayangimu" timpalku
Dia tertawa manis. "Dasar kucing." Dia mencibir
"Meonggg…," sahutku. 

Lagi-lagi ia tertawa. "Hai, alangkah baiknya kalau
perempuan tidak lagi menyumpahi laki-laki dengan
kata-kata ’anjing kau!’. Bukankah semestinya perempuan
menyumpahi laki-laki dengan kata-kata ’kucing kau!’.
Bagaimana menurutmu?"
"Meonggg…," sahutku lagi mengeong seperti seekor
kucing yang sedang kasmaran.
"Kamu genit, mau menikah denganku?" tanyanya meledek
"Meonggg…kapanpun!!!" jawabku serius

Aku menariknya ke dalam pelukanku di dalam
angan-angan.
Dan aku orgasme ketika menyelesaikannya di dalam
sebuah tulisan.
Akhirnya aku beranjak menuju kamar mandi untuk
melakukan ritual anak kecil; mencuci tangan, kaki,
muka dan menggosok gigi. 

Bah!
Ketika selesai kubasuh wajahku, aku tengadah
 melihat
pantulan diriku di cermin di atas toilet.
Astaga!
Wajahku separuh anjing , separuh kucing.
Alamak!
Aku separuh menggonggong , separuh mengeong.
*** 

Kairo, 2006

“Kado Ulang Tahun”

22.14 : 25.09.2007.

Ini adalah malam yang langka dari sekian banyak malam yang tak kukenal namanya. Rasa kantuk datang begitu tiba-tiba kendati malam belum begitu larut. Sebuah sensasi premature yang aneh untuk seorang pencinta malam sepertiku dan teman-temanku yang biasa melewatkan malam dengan duduk bermain kartu sambil mengobrol dan tertawa-tawa atau nonton sambil menghisap rokok dan menikmati cangkir-cangkir kopi berisi teh manis pekat yang khas atau hanya duduk serius di depan computer sambil mengotak-atik mouse, keyboard atau twin joystick dengan suara yang merobek seluruh ruangan. Atau sesekali mengisinya dengan ketololan-ketololan lain yang akan membuat tertidur hanya karena paksaan fisik. Mulai lelap saat subuh datang atau matahari menjelang dan berakibat bangun siang bahkan petang.  Lalu kuhabiskan siang hari di kerajaan mimpi untuk bersembunyi dari matahari. Apalagi musim panas sepertinya belum berniat untuk pergi sementara musim dingin masih malu-malu untuk unjuk diri.

Ketika kejernihan kembali bernaung dalam nurani, maka aku akan menyesalinya. Ya..menyesali kehidupan yang jauh dari kewajaran sehari-hari. Tanpa agenda untuk mengatur kegiatan. Tanpa jam sebagai penunjuk waktu sehingga  terlalu banyak waktu yang terlewatkan untuk sesuatu yang tak semestinya. Dan aku telah kehilangan kompas menuju masadepan. Membuat alur hidupku terseok-seok tanpa arah di jalan kehidupan yang panjang.

Sebenarnya aku sangat menyadari bahwa penderitaan manusia berakar dari ketidakrelaan untuk menempatkan diri pada tempatnya. “Bukankah seharusnya aku dapat menanamkan lebih banyak kemanisan untuk esok hari?”. Ini adalah pertanyaanku pada diri sendiri. Sebuah pertanyaan yang selalu terulang tanpa kujawab. Percuma saja, karena jawabannya tetap saja akan terdengar naïf. Sebab aku tak pernah menyaksikan pada realitanya kecuali kenihilan.

22.33 : 25.09.2007

Malam baru mulai meninggi di kota ini, padahal matahari  telah beranjak cukup lama dari kaki cakrawala. Kulihat langit terang dengan semburan cahaya bulan yang hampir sempurna, barangkali esok ia akan muncul sebagai purnama. Ya, ini adalah hari ketigabelas bulan ke sembilan dari tahun Hijriyah.

Orang-orang di kota ini akan merengek lapar saat dunia terang lalu menggelepar kehausan saat matahari menggarang di puncak ubun-ubun. Karena mereka biasanya mempercepat sarapan mereka saat malam mulai renta sebelum fajar tiba. Kemudian menggelar dan menyantap hidangan makan siang mereka saat ufuk merah matahari bersembunyi di belakang kota bersama senja yang menggelap dan  kehilangan warna jingganya, sehingga tak ada jamuan makan dengan kehadiran sang surya. Mereka harus mematuhinya, sebab kalau tidak, maka berbagai cacian akan mendarat di sekujur tubuh dan mereka menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap tuhan.

Sejurus kemudian seluruh panca inderaku telah dirasuki hasrat tak tertahan yang memaksaku untuk masuk ke peraduan. Tapi aku merasa terlalu dini untuk bermimpi sambil berpeluk cium dengan bantal gulingku yang mulai keriput. Sementara gelak tawa, gaduh obrolan teman-temanku dan nada musik yang yang menggaung kuat  masih memenuhi udara di ruang tamu, menembus kamar-kamar tidur, dapur, sampai ke kamar mandi.

“Ah, bukankah aku tak pernah peduli dengan apa yang mereka  lakukan dan begitu pula sebaliknya?”Begitu gumamku dalam hati.

“Tidak, aku bahkan sangat peduli”sergahku kembali. “Persetan, lagipula aku tak pernah merasa terusik, tidak pula mereka”aku berpikir diam-diam menepis berbagai prasangka.

Akhirnya kuputuskan untuk berjalan menuju kamarku dengan langkah lesu selesu hati dan isi dompetku dan aku menobatkan kondisi ini sebagai kesialan untuk kesekian kalinya di tahun yang sama.

Kurasakan suhu dalam ruangan mendadak anjlok menawarkan aroma bius yang memiliki daya lebih kuat dari sekedar kehendak untuk melarutkan diri dalam ketidaksadaran. Aku meletakkan ponselku di atas meja dan merebahkan tubuhku di atas pembaringan tanpa ranjang. Tatapanku perlahan melemah sayu hingga akhirnya mataku sendiri yang memutuskan untuk berhenti dari kedipan.

Aku tergeletak seperti patung rebah, jiwaku lelap, hanyut dalam mimpi sambil menghisap kembali seluruh cairan kehidupan yang menguap bersama angin.

00.00 : 26.09.2007

Tiba-tiba ponselku berdering memekak gendang telingaku bertubi-tubi. Nyaris ibarat sebuah orkestra dengan ribuan melodi yang menggema di seluruh ruangan. Cukup nyaring untuk mengusir mimpi-mimpi yang baru beberapa saat berkeliaran diatas kepalaku. Suaranya seakan datang dari labirin ruang dan waktu yang sangat jauh. Sekali..duakali..tigakali..Hmm, entah berapakali ponselku berbunyi, aku tak mampu lagi mengandalkan jari tanganku untuk menghitung nada yang datang, tidak pula jari kakiku.

Aku mulai bosan dan muak. Ada rasa kesal yang menyeruak tanpa permisi di dadaku.

“Shit, aku lupa mengubah nada dering ponselku menjadi silent mode!”desisku memaki diri sendiri.

Hampir bersamaan jam kayu di dinding kamarku berbunyi seperti denting bel Persia, seakan menyahut nada dering ponselku yang belum mereda tanpa jeda. Tapi bagiku adalah kesesakan lain di lorong hati dan telingaku.

Untuk sesaat aku tak mampu untuk menjejak ruang dan waktu. Aku mencoba membuka mataku perlahan. Komponen-komponen gelap masih menyelimuti pandanganku, langit-langit kamar, segala ruang dan penjuru. Aku memang tak bisa tidur tanpa kegelapan.

Dengan malas aku menjulurkan tanganku mencoba meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.

“33 messages received”

“Astaga!”Aku terkesiap tanpa mampu menyembunyikan keterkejutanku andai saja kegelapan tak membalut wajahku. Aku mengucek mataku berkali-kali kendati tak cukup berguna untuk merubah tulisan yang tertera di layar ponselku. Benar-benar angka menakjubkan yang melampaui jumlah kehadiranku di kuliah selama satu tahun. Angka yang sama dengan jumlah butiran tasbih kristal yang aku hadiahkan pada temanku di hari ulang tahunnya.

Aku menarik tubuhku ke belakang dan menyandarkannya di dinding yang kusam. Kubaca satu persatu pesan yang masuk.

Seketika aku merasa arus sungai berbalik arah, ada setitik haru yang menembus kisi-kisi hatiku. Menerobos masuk sampai pada emosi yang terdalam. Aku tersenyum melihat pesan-pesan yang berisi ucapan selamat ulang tahun bernada doa dan asa dari orang-orang yang kukenal.

“Alamak!Seharusnya aku menyadari sejak kemarin kalau hari ini adalah hari ulang tahunku”. Sedari dulu aku memang tak pernah merayakannya sekalipun, terkadang melupakan bahkan tak mempedulikannya. Dan aku tahu kalau orang-orang pun tak pernah peduli. Padahal kalau dari dulu aku dan orang-orang mengingatnya, maka aku akan menganggapnya sebagai anugerah. Aku berpikir sebaiknya aku merayakanya kali ini walau dengan cara yang sangat sederhana sekalipun, tanpa jamuan pesta yang sarat dengan hidangan. Ya, Setidaknya untuk dapat menyadarkan dunia akan keberadaanku.

Aku menemukan seonggok kekuatan yang mampu membuatku bangkit dan mengusir sisa kantuk dari tubuh. Lalu dengan sekelumit paksaan aku melangkah menghampiri pintu kamar yang menghadap langsung ke pemandangan kota dengan taburan lampu terakota yang menjajari trotoar.

Di sudut jauh terlihat sebuah arsitektur mini dengan empat kaki membentuk pyramida. Aku mengenalnya sebagai tempat peristirahatan sesosok pahlawan yang pernah menjadi orang nomor satu negeri ini, walaupun tak sedikit dari mereka yang menuduhnya sebagai orang tak berguna karena sebuah pengkhianatan. “Mungkin ini hanya bias temperamen semata.” pikirku dalam hati.

Seketika aku teringat orang seorang pribumi saat menyebut nama lain dari kota ini.

“Kota kematian”katanya padaku lirih.

“Mengapa?”tanyaku heran sembari mengernyitkan dahi.

“Kau tahu pyramid adalah symbol kebanggaan kota ini, bukankah itu berarti kuburan para raja agung. Maka ketika mereka membanggakannya, sama artinya dengan membanggakan kematian. Semestinya kau juga menyadari makna dari kuburan orang-orang shaleh yang sedang kau ziarahi”jelasnya lugas berbuntut satu pertanyaan yang pastinya akan kubalas dengan pertanyaan klise.

“Jadi, sebaiknya jangan kau jadikan kota ini sebagai kuburan masadepanmu”tuturnya mengingatkanku sambil tersenyum dan melangkah pergi.

02.00 : 26.09.2007.

Aku masih termenung bersandar pada bingkai pintu kayu dengan tatapan kosong. Tubuhku masih di sini bermandikan cahaya bulan sampai ke lutut. Tapi anganku sudah lama melayang jauh seakan ditembakkan dari moncong senapan ke dinding masa lalu.

Momen ini membuatku teringat dan memikirkan diri sendiri di masa lalu, hari ini dan masa depan. Mengurai setiap gumpalan memori, asa dan harapan yang mengendap.

Sudah lepas empat belas tahun sejak aku terdampar jauh dari kampungku. Bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penantian dan kerinduan orang tua. Tapi rasanya baru kemarin aku dilahirkan. Waktu memang tak pernah mengingatkan kita akan lajunya andai saja kita tak cukup mawas diri untuk selalu mengingatnya. Selalu saja ada penyesalan yang kian hari kian menggunung untuk kesempatan-kesempatan yang terlewatkan dengan kehampaan. Guruku bahkan mendaulatnya sebagai keniscayaan.

Ingatanku berkelebat pada dua sosok wajah yang paling yang paling aku hargai, tiba-tiba aku merasa takut kalau-kalau suatu hari mereka menagih masadepan kepadaku. Pastinya akan terdengar sangat ironis jika aku menjadi sia-sia bagai kutu pohon yang hidup tanpa menawarkan apapun selain hibernasi abadi. Bagaimanapun aku pasti pulang dan mereka akan mengejarku untuk meminta pertanggungjawaban. “Ah, kenapa berpikir terlalu jauh, bukankah kita selalu dituntut untuk berpikir realistis dengan membuang jauh-jauh segala penyesalan masa lalu dan ketakutan masa depan?”sergahku mencoba menghibur diri walau aku menangkap makna kata-kataku semakin kosong.

03.10 : 26.09.2007

Ingatanku terus membumbung menguap melewati atap berbaur bersama angin beraroma fajar. Sementara aku duduk bersandar dengan kaki terjulur menikmati sisa-sisa sepoi angin malam yang mendesiri sekujur tubuhku. Mengikis sedikit demi sedikit kesadaran sampai setipis kulit bawang lalu menyerpih dan tergilas mimpi-mimpi yang berkelebat saat mataku terpejam.

Tiba-tiba dalam keremangan aku melihat seorang perempuan seperti bayangan dengan pesona fisik yang menumbuhkan hasrat pada lelaki dan kecemburuan pada wanita. Batinku terseret pada kekaguman agung. Aku membiarkan mataku mengembara seolah menjelajahi seluruh permukaan aoratnya dengan mata.

Ia menghampiriku dengan tangan melingkar pada sebuah kotak terbungkus berhias pita di pangkuannya.

“Kau Ikbal kan?”tanyanya lirih sembari berlutut di depanku. Aku mengangguk tanpa ada satu ucapanpun meluncur dari bibirku. Aku terpana dan berusaha menahan perasaan yang dibakar gairah. Membendung hasrat yang siap menghambur menjadi ribuan emosi.

“Aku membawa sesuatu untukmu, kado ulangtahun”lanjutnya sambil mengulurkan tangannya seraya menyerahkan kotak yang ada dipangkuannya.

“Kau siapa?”tanyaku memasang muka penuh tandatanya.

“Namaku Ilusi. Panggil saja aku Lusi”sahutnya dengan suara lembut setengah berbisik.

“Kenapa kau lakukan semua ini?”tanyaku pada perempuan itu.

“Karena aku ingin kamu bahagia”serunya sembari menebar senyuman yang membuai jagat.

“Sebaiknya kau buka kadonya”lanjutnya cepat sebelum aku sempat bertanya lagi seolah ia tahu apa yang ada dibenakku.

Aku membukanya dan terpana menemukan 4 ornamen antik tersusun rapih pada rak mini berlapis kain bludru merah. Di kedua sisi aku melihat buku agenda berseberangan dengan sebuah cermin berbingkai kuno. Mengapit jam kalung dan kompas unik yang memisahkan keduanya.  Mataku lekat memandangi satu persatu seluruh ornamen yang mirip fatamorgana yang berpendar keemasan dengan perasaan takjub.

“Aku rasa kau cukup cerdas untuk mengerti semuanya”serunya sambil beranjak pergi, tubuhnya menipis bagai kabut dan mencercah seperti kaca lalu lenyap. Aku mengantar kepergiannya dengan kepasrahan bisu seperti nakhoda yang menyaksikan kapalnya karam membawa seluruh kekayaan ke dasar laut.

“Astaga!” aku terperanjat mematung menatap cermin yang kosong tanpa bayangan. Betapa mengerikan membayangkan kenyataan bahwa aku tak bisa melihat diriku sendiri. Kesejatian seorang manusia.

Matahari mulai menabur senyum hangatnya saat aku terjaga dengan setetes harapan.